
INN | PADANGSIDIMPUAN (SUMUT) – Pernikahan Pratu Nanda Supriadi Hasibuan, prajurit TNI Angkatan Darat yang berdinas di Satuan Tempat Pembekalan Angkutan (Tepbek) I/5.B Tarutung, Bekangdam I/Bukit Barisan, berlangsung istimewa dengan perpaduan tradisi militer dan adat istiadat Batak Mandailing.
Pratu Nanda mempersunting Riska Rahayu Harahap, A.Md.Keb., dalam suasana penuh kebahagiaan dan kekeluargaan. Momen tersebut semakin istimewa dengan pelaksanaan tradisi Sangkur Pora yang diberikan oleh satuannya sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan di lingkungan TNI AD.
Prosesi Sangkur Pora berlangsung khidmat, tertib, dan lancar serta disambut antusias oleh keluarga dan masyarakat yang hadir. Tradisi ini mencerminkan nilai persaudaraan, penghormatan, dan jiwa korsa di antara sesama prajurit. Dalam lingkungan TNI, Sangkur Pora umumnya diperuntukkan bagi prajurit Tamtama dan Bintara, sedangkan Pedang Pora dilaksanakan bagi golongan Perwira.
Singkatnya, Seorang pemuda Desa dari pelosok nun jauh disana tepatnya di sebuah Desa Joring Lombang Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu Kota Padangsidimpuan lahirlah seorang anak manusia yang bernama Nanda Supriadi Hasibuan. Waktu terus berjalan diapun memutuskan arah hidupnya untuk mengabdi kepada Negara Kesatuan Republik Indownsia melalui Tentara Nasional Indownsia Angkatan Darat ( TNI – AD ). Hingga Saat ini Nanda Supriadi Hasibuan dengan pangkat Prajurit Satu berdinas di Satuan Tempat Pembekalan Angkutan ( Tepbek ) I/5.B Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara.
Satuan Tepbek Tarutung bertugas untuk melayani Satuan -W satuan TNI antara lain Kodim 0210/TU yang di komandoi oleh Letkol Arm Kiky Hardian S. Sos dan Bataliyon Infanteri Teritorial Pembangunan ( Yonif TP ) 955 /Hoda Sihapaspilidi berada di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) dan Komandan yang diberi kepercayaan oleh Negara untuk memimpin satuan tersebut adalah Letkol Inf. Heryanto Sinaga, S. Hub. Int., M.Tr termasuk juga melayani satuan – satuan TNI lainnya.
Terlepas Pratu Nanda Supriadi sebagai seorang Prajurit TNI AD yang merupakan putra pertama dari Bapak Hairun Hasibuan dan Ibu Yusna Hara Harahap, maka sebagai manusia biasa dia juga mempunyai hak dan kesempatan untuk memilih tambatan hatinya untuk dijadikan Isteri sekaligus pendamping hidupnya serta mereka akan menjadi pasangan suami istri yang kelak mereka jalani di lingkungan keluarga, masyarakat, satuan, bangsa dan negara. Adapun Sang pujaan Hati Isteri tercinta bernama Riska Rahayu Harahap, A.Md, Keb. Anak Ke Empat dari Bapak Jaswan Harahap dan Ibu Daniah.
Selain itu seorang perempuan yang bernama Riska Rahayu Harahap, A.Md, Keb tersebut, telah memutuskan untuk menjadi isteri seorang anggota TNI dan harus mampu menjadi isteri pendamping yang setia baik suka maupun duka serta dapat menjadi pendorong & pembangkit semangat bagi Pratu Nanda Supriadi Hasibuan untuk melaksanakan tugas yang diembankan oleh satuan bangsa & negara. Akhirnya, Atas ijin dan Takdir dari Allah Subhanahu Wata’ala serta restu dari kedua orang tuanya Sang Prajurit Petarung tersebut memutuskan untuk menikahi seorang gadis pujaan hatinya. Tak terasa waktu terus berjalan dan berputar sampailah pada acara puncak di kediaman bapak mertua Pratu Nanda Supriadi Hasibuan dilaksanakanlah prosesi dan Resepsi Akad pernikahan yang mana pada akhirnya mereka berdua sudah syah menjadi pasangan suami istri baik secara Agama Islam maupun secara kedinasan.
Ada yang menarik di hari pernikahan tersebut Pratu Nanda Supriadi Hasibuan yang merupakan Abituren Tamtama Prajurit Karir Tahun 2020 ( Artaduma ) mendapat sebuah kehormatan dari satuan tempat dia berdinas, dimana di sela – sela acara pernikahan dilaksanakan Tradisi Sangkur Pora yang merupakan suatu wujud kepedulian dari Satuan Tentara Nasional Indoensia Angkatan Darat ( TNI AD ) tepatnya Satuan Tempat Pembekalan Angkutan ( Tepbek ) I/5.B Tarutung, Yang Komandannya bernama Kapten Cba Ribut ( Abituren Secaba Umum / PK 3 Senapati 95/96 ). Dan satuan tersebut dibawah garis komando satuan Pembekalan dan Angkutan Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan ( Bekangdam I/BB ) yang mana saat ini Kolonel Cba Tito Simanjuntak, S.H. ( Lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1998. ) Diberikan mandat & kepercayaan oleh Negara untuk memimpin dan menjadi yamg tertua di Satuan Badan Pelaksana Kodam I/Bukit Barisan tersebut.
Di mana Acara Tradisi Sangkur Pora berjalan dengan khidmad, aman, damai, tertib dan lancar serta Keluarga maupun masyarakat yang melihat secara langsung sangat gembira, bangga serta kagum atas acara Tradisi Sangkur Pora yang di laksanakan pada acara resepsi pernikahan tersebut.
Perlu kita ketahui bersama bahwaTradisi Sangkur Pora di dalam lingkungan Tentara Nasional Indonesia dilaksanakan bagi Prajurit TNI berpangkat Tamtama dan Bintara. Sementara Untuk Yang berpangkat Perwira acara tradisinya di sebut dengan Tradisi Pedang Pora. Begitulah secara singkat tradisi pernikahan di lingkungan TNI.
Artinya prosesi pernikahan yang dilakukan tentunya mempunyai makna dan filosofi tersendiri yang menunjukkan eratnya rasa persaudaraan dan persahabatan maupun semangat persatuan dan kesatuan serta tingginya Jiwa Korsa sesama Prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dimanapun berada dan bertugas.
Apabila Rangkaian pernikahan di isi dengan mengikuti adat dan istiadat serta budaya masing – masing daerah, maka prosesi Pernikahan yang kita laksanakan mulai dari Sabang sampai Merauke tentu memiliki corak ragam budaya yang berbeda – beda. Namun bila kita merujuk dan memaknainya pada Filosofi yang sering disebut dengan Kata Bhineka Tunggal Ika yang merupakan berasal dari bahasa jawa kono ( Sansekerta ) yang memiliki arti yaitu ” Walaupun Kita berbeda – beda namun kita tetap Satu Juga “. Artinya, makna yang sangat mendalam tersebut mengharuskan kita dengan berlatar belakang, suku dan bahasa untuk tetap bersatu didalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Siapa Sangka perjalanan singkat pernikahan Pratu Nanda Supriadi Hasibuan bergerak menuju ke kediaman orang tua Kandung Pratu Nanda Supriadi Hasibuan tepatnya di Desa Joring Lombang Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu Kota Padangsidimpuan Kabupaten Tapanuli selatan yang merupakan Wilayah Teritorial Kodim 0212/Tapanuli Selatan yang saat ini di pimpin Oleh Letkol Inf. Dedi Harnoto, S.I.P.
Dimana Pada acara resepsi pernikahan Dikampung halaman Pratu Nanda Supriadi Hasibuan dilaksanakan acara adat istiadat dari suku Batak Mandailing selama 3 hari berturut – turut. Suasana begitu senang, gembira dan Khidmat mulai dari acara mapasu – pasu, pemberian nasehat kepada kedua mempelai dari kedua orang tua dan keluarga serta acara adat manortor yang diiringi oleh musik tradisional gondang topap, ogung jantan, saleot, serta suling menambah suasana tarian atau manortor ala Batak Mandailing semakin asyik, indah dan sangat membuat hati senang dan gembira.
Begitu banyaknya suku – suku yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala di seluruh dunia termasuk Di Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti Suku Jawa, Sunda, Aceh, Batak Toba, Batak Mandailing, Padang, Karo, Nias, Ambon, Asmat, Madura, Bugis, Tidung, Dayak, Madura, Papua, Melayu Deli, dan banyak lagi yang lainnya. Oleh Karenanya Prajurit TNI dari sabang Sampai Merauke tentunya juga mempunyai latar belakang yang berbeda – beda termasuk Pratu Nanda Supriadi Hasibuan seorang Prajurit TNI AD dari Satuan Tempat Pembekalan ( Tepbek ) I/5.B Tarutung, Bekangdam I/BB Kodam I/ Bukit Barisan.
Dia tak mau ketinggalan dalam melaksanakan momen bahagia yang alaminya, Sehingga semua rangkaian acara diabadikan mulai dari avara Akad Nikah, Sangkur Pora dan acara Adat Istiadat yang merupakan Budaya dan warisan leluhur dari tanah kelahirannya di Desa Joring Lombang Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera.
” Aku serta Kita semua takkan mungkin melupakan adat istiadat yang merupakan budaya leluhur indato moyang secara turun temurun ” Melalui Resepsi Pernikahan ini sebagai Prajurit TNI AD kami ingin Budaya dan adat istiadat di seluruh Daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga dan terus dilestarikan sebagai salah satu menjaga kearifan lokal serta menjadi momen penting dan berharga dalam menghormati dan mencintai warisan adat istiadat dan Budaya Bangsa Indonesia.
Ada satu hal yang menarik dan tak boleh kita lupakan bahwa di Kabupaten Tapanuli Selatan juga memiliki tokoh – tokoh penting yang harus kita ketahui antara lain :
Tokoh Militer dan Pahlawan Nasional
- Jenderal Besar TNI (Purn.) Abdul Haris Nasution lahir: Kotanopan (dahulu bagian dari Tapanuli Selatan/Mandailing Natal), pada tanggal 3 Desember 1918. Selain beliau pangkat Jenderal Besar ( Bintang Lima ) juga diberikan kepada 2 tokoh Militer Indonesia yaitu Jenderal Besar Soedirman dan Jenderal Besar Muhammad Soeharto yang merupakan Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Ke -2 .
- Selanjutnya Beliau adalah pencetus strategi Perang Gerilya (Dalam bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Gerilya) dan jabatan yang disandangnya antara lain, Panglima Divisi Siliwangi, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), dan Ketua MPRS. Selain itu Beliau juga merupakan target yang selamat dari peristiwa tragis G30S/PKI pada tahun 1965. Namun Anak kandung Yang bernama Ade Irma Suryani Nasution meninggal 5 hari setelah peristiwa Atau Tragedi Penghianatan G 30 S / PKI.
- Letnan Sahala Muda Pakpahan (Mamang Sahala) yang berasal dari Sipirok, Tapanuli Selatan.
Peran nya sebagai Komandan Angkatan Gerilya Sipirok (AGS) pada masa Revolusi Fisik (1946–1949). Dikenal sebagai pejuang muda berani yang memimpin perlawanan gigih terhadap pasukan kolonial Belanda di wilayah Tapanuli Selatan hingga dijuluki sebagai “Harimau dari Tanah Sipirok” atau “Naga Bonar dari Tano Angkola”.
- Muda Siregar (bergelar Sutan Doli) adalah Bupati pertama Kabupaten Tapanuli Selatan. Beliau memimpin daerah tersebut pada periode awal pembentukan kabupaten, yaitu dari tahun 1950 hingga 1951.
Berikut adalah beberapa fakta singkat mengenai jejak kepemimpinan beliau antara lain :
1). Sebagai Pionir Pemerintahan : Sebelum resmi menjadi Bupati pasca-pembentukan kabupaten, Muda Siregar sudah dipercaya memimpin wilayah Tapanuli Selatan sebagai kepala daerah pada masa-masa krusial Agresi Militer Belanda.
2). Karier Birokrasi : Beliau memiliki rekam jejak birokrasi yang panjang di wilayah Sumatra Utara. Selain di Tapanuli Selatan, beliau tercatat pernah menjabat sebagai Residen Sumatra Timur (1951) dan Wali Kota Medan (1954).
Kembali kita lihat pada prosesi Akad Nikah yang dipadukan dengan berbagai adat istiadat dan budaya di Wilayah Indonesia misalnya, bila kita melihat dan pernah mendengar Acara resepsi pernikahan yang dilakukan oleh pejabat Tertinggi negara, kita ambil contoh Resepsi Pernikahan Putra dari Presiden Ke-6 Negara Kesatuan Republik Indonesia Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Isteri Beliau yang juga merupakan Ibu Negara ( Almarhum Hj. Ani Yudhoyono ) secara singkat. Dimana Putra pertama Beliau yang bernama Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A. yang saat ini mendapat amanah & kepercayaan dari Negara menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan dalam Kabinet Merah Putih yang di pimpin oleh Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia Ke – 8 yaitu Jenderal TNI ( Purn ) ( HOR ) Prabowo Subianto.
Yang mana Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A. (AHY) dan Isteri yang bernama Annisa Pohan, tepat pada tanggal 8 Juli 2005 menggelar acara Resepsi pernikahan dengan menggunakan perpaduan adat Jawa (Yogyakarta) dan tradisi militer Pedang Pora. Mengingat saat itu Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden Ke-6 Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berikut adalah rincian tradisi dan adat istiadat yang dilaksanakan dalam momen mantu pertama Presiden Ke-6 Negara Kesatuan Republik Indonesia Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono.
Rangkaian Prosesi Adat Jawa
Untuk menjaga efisiensi waktu karena Presiden Ke – 6 Negara Kesatuan Republik Indonesia Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono tidak mengambil cuti kerja, beberapa item dalam prosesi adat Jawa dipangkas dan hanya menyisakan bagian-bagian yang paling sakral, antara lain :
Prosesi Siraman : Digelar pada 7 Juli 2005 malam. Siraman untuk Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., dilaksanakan di kediaman pribadi keluarga Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas. Sementara itu Sang Isteri tercinta Annisa Pohan melaksanakannya di kediaman orang tuanya. Ritual ini melambangkan pembersihan diri lahir dan batin sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Sungkeman: Momen khidmat dan penuh haru ketika Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A. meminta doa restu kepada Kedua Orang Tuanya yang sangat dihormati dan disayanginya yaitu Ayahanda tercinta Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibunda Tercinta Almarhum Hj. Ani Yudhoyono, begitu pula dengan Annisa Pohan kepada kedua orang tuanya sebelum akad nikah berlangsung.
Akad Nikah dengan Pakaian Tradisional : Akad nikah yang berlangsung pada 8 Juli 2005 mengusung adat Jawa yang kental. Annisa Pohan tampil anggun mengenakan riasan paes ageng khas Yogyakarta dengan balutan kebaya. Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) dan seluruh keluarga inti mengenakan Beskap ( Baju atasan resmi khas pria dalam tradisi adat Jawa khususnya wilayah Surakarta/Solo yang berfungsi sebagai busana adat atau pakaian formal serta kain batik Jawa yang seragam.
Tradisi Militer Pedang Pora
Selain adat tradisional suku Jawa, pernikahan ini juga diwarnai dengan tradisi militer yang kuat, karena pada saat itu Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A. ( AHY ) merupakan seorang perwira muda TNI Angkatan Darat berpangkat Letnan Satu (Lettu), Sehingga resepsi pernikahan mereka dilengkapi dengan Upacara atau tradisi Pedang Pora. Dimana para Pasukan perwira militer membentuk gapura bersilangan menggunakan pedang sebagai simbol penghormatan dan selamat datang bagi kedua mempelai dalam memasuki kehidupan rumah tangga di lingkungan militer.
Makna Kemajemukan Adat
Meskipun prosesi pernikahan didominasi oleh adat Jawa dari pihak keluarga Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ). Namun pernikahan ini di kemudian hari sering disebut oleh Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A. ( AHY ) sebagai simbol keberagaman dan kemajemukan. Hal ini dikarenakan Annisa Pohan memiliki latar belakang keturunan campuran Sumatra Utara (Batak) dan Jawa Timur.
Artinya, Sebagai Kepala Negara atau Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia Yang Ke 6 saat itu, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) beserta keluarganya sangat mengormati Warisan Budaya dari garis keturunan atau leluhur dan indatu miyang mereka serta adat istiadat dan ragam budaya yang ada di Seluruh Tanah Air Indonesia.
Pada Hakekatnya Adat istiadat dan ragam budaya Di Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak Presiden Pertama Ir . H. Soekarno hingga Presiden Ke – 8 Jenderal TNI ( Pun ) ( HOR ) Prabowo Subianto tentunya pada masanya mereka mendapatkan kepercayaan Sebagai Pemegang Kekuasaan ( Ulil Amri ) dan mendapatkan mandat dari Rakyat Indonesia, Tentunya para Pemimpin Bangsa Tersebut sangat menghormati dan menghargai semua Adat istiadat dan budaya yang merupakan warisan dari para pendahulu bangsa. Artinya, Semua komponen Bangsa harus tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya serta berusaha menjaga dan merawat Budaya daerahnya masing – masing. Karena itu semua adalah ciri khas tersendiri serta hal tersebut merupakan kearifan lokal yang tidak boleh di lupakan oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh penjuru tanah air Indonesia.
Oleh Karenanya Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia Jenderal TNI ( Pun ) ( HOR ) Prabowo Subianto bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru-baru ini melaksanakan sejumlah kegiatan penting terkait kebudayaan, seni, dan permuseuman pada.bulan Oktober 2026.
Selanjutnya orang nomor satu di Republik Indonesia tersebut melakukan Kunjungan dan Peninjauan Museum Nasional Pada 13 Oktober 2026 didampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan melihat secara langsung koleksi Museum Nasional Indonesia bersama anak-anak sekolah Pelajar).
Dimana Pertemuan Percepatan Revitalisasi Museum pada tanggal 12 Oktober 2026, Dimana Jenderal TNI ( Pun ) ( HOR ) Prabowo Subianto Selaku Presiden Republik Indonesia menerima Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Istana Merdeka, Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Museum Nasional. Dalam pertemuan tersebut, Presiden mendorong percepatan revitalisasi ratusan museum dan aset budaya di seluruh Indonesia.
Selanjutnya Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia Jenderal TNI ( Pun ) ( HOR ) Prabowo Subianto sangat mengapresiasi Pagelaran Kesenian dan kebudayaan dan akan memberikan perhatian khusus agar kedepan Seni & Budaya dapat dikembangkan serta dapat dijadikan daya tarik bagi wisatawan Domestik Maupum.dati manca negara. Hal tersebut juga mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan, termasuk melalui rangkaian acara dan pagelaran seni & budaya yang selalu di selenggarakan di berbagai wilayah di Indonesia. Artinya, Seni Budaya dan Adat istiadat mari kita jaga dan pelihara bersama – sama, Mulai dari Desa, Kecamatan, Kota, Kabupaten, Provinsi, Nasional bahkan di level Internasional. Selanjutnya ragam budaya Indonesia tersebut dapat kita jadikan sebagai bagian yang tidak dapat terpisahkan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Perlu kita ketahui bersama seorang seniman ( Musisi ) Legendaris Di Indonesia yang dijuluki si Raja Dangdut dan memperoleh gelar doktor honoris causa (Dr. HC) dalam bidang musik (dangdut) pada tahun 2005 (tepatnya pada bulan Januari/Februari 2005) dari American University of Hawaii.
Selanjutnya merilis sebuah lagu yang berjudul 135 Juta. Dan Lagu tersebut di buat pada tahun 1976 yang mana dalam syairnya menceritakan tentang banyaknya suku dan Budaya di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia adalah H Rhoma Irama yang sampai sekarang ini bersama Soneta Groupnya masih eksis & Membuming di Seluruh Penjuru Nusantara bahkan sampai ke Manca Negara.
Kembali pada sekelumit kisah Singkat Prajurit TNI AD dari satuan Pembekalan dan Angkutan Kodam I/Barisan yang bernama Pratu Nanda Supriadi Hasibuan serta beberapa ringkasan kisah lainnya yang dapat kita jadikan sebagai sarana & wahana terbaik untuk selalu mengingat ragam budaya dan suku bangsa dan sejarah singkat yang pernah terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selanjutnya marilah kita selalu berdoa Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa memberikan, kesehatan, kekuatan, keberkahan, perlindungan dan kelancaran kepada kita semua dalam melanjutkan pengabdian terbaik kepada keluarga, masyarakat, satuan, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai bersama.
Namun hal utama yang harus kita ingat bersama dan harus kita jadikan sebagai Pondasi dalam kehidupan kita sehari – hari adalah Siapapun kita, apapun pangkat dan jabatan yang kita sandang saat ini, berapa banyak harta yang kita punya, berasal dari bangsa mana dan suku apa, baik kita diciptakan sebagai laki – laki maupun perempuan, semua itu merupakan Ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala dan kita harus saling mengenal satu dengan yang lainnya.
Hal itu tentunya sangat relevan dan sesuai dengan Firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Alquran Surat Al Hujarat ayat 13 yang artinya : “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” Semoga kita selalu Istiqomah dalam beribadah dan selalu bertawakal Kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
Aamin Ya Rabbal ‘Alamiin.(*)