
INN | KARO (SUMUT) – Di balik ketegasan seorang perwira intelijen, ternyata tersimpan sisi lain yang begitu humanis. Sosok itu adalah Letkol Arm Eddy Saputra Ginting, S.E., M.S.M., M.Tr.Mil., Dandenintel Kodam I/Bukit Barisan.
Sebagai seorang perwira intelijen, Letkol Eddy mengemban tugas dan tanggung jawab strategis. Ketajaman, kewaspadaan, ketelitian, serta kesiapsiagaan menjadi bagian dari kesehariannya dalam menjalankan amanah kedinasan.
Namun, di balik seragam dan tanggung jawab tersebut, terdapat sosok sederhana yang tetap memegang erat nilai kekeluargaan serta adat budaya Karo.
Hal itu terlihat ketika keluarga besar melaksanakan acara mengenang satu tahun berpulangnya ayahanda tercinta, Almarhum Bapak Usaha Ginting Suka, Sabtu (19/9/2026).
Dalam suasana kekeluargaan tersebut, Letkol Eddy tampak membaur bersama keluarga, kerabat, sahabat, serta masyarakat yang hadir. Tidak terlihat sekat antara jabatan dan kehidupan keluarga. Ia menyapa dan menerima setiap orang dengan ramah.
Momen haru terjadi ketika sejumlah orang tua dan para lansia yang hadir memeluk erat Letkol Eddy, dengan penuh kasih sayang, mereka mencium pipi sang perwira sembari menyampaikan doa dan harapan agar putra Karo tersebut senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan dan kesuksesan.
Air sirih yang keluar dari mulut para orang tua tersebut bahkan meninggalkan noda merah di kemeja putih yang dikenakan Letkol Eddy.
Menariknya, noda tersebut sama sekali tidak membuatnya risih. Ia justru tetap memeluk dan menghormati para orang tua dengan penuh ketulusan.
Pemandangan sederhana itu menjadi simbol kuat tentang bagaimana seseorang tetap menghormati orang tua dan akar budayanya, meskipun telah mengemban jabatan dan tanggung jawab besar.
Pangkat dan jabatan yang melekat di pundaknya tidak membuat Letkol Eddy melupakan lingkungan tempat ia dibesarkan. Di tengah tuntutan tugas sebagai Dandenintel Kodam I/BB, nilai kekeluargaan dan penghormatan kepada orang tua tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Bagi sebagian orang, kesibukan seorang perwira intelijen mungkin membuatnya jarang terlihat dalam berbagai kegiatan sosial. Namun, hal tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai sikap menjauh dari keluarga maupun masyarakat.
Tugas intelijen memang menuntut kesiapsiagaan dan tanggung jawab yang tidak mengenal waktu. Banyak pekerjaan dilakukan dalam senyap, tetapi hasilnya diharapkan dapat mendukung keberhasilan tugas satuan dan menjaga kepentingan institusi.
Momen di Tanah Karo itu seolah memperlihatkan sisi berbeda dari sosok Letkol Arm Eddy Saputra Ginting. Di balik ketegasan seorang Dandenintel, terdapat seorang putra Karo yang tetap santun, menghargai orang tua, mencintai keluarga dan tidak melupakan akar budayanya.
Noda sirih yang melekat di kemeja putihnya bukan sekadar noda. Bagi yang menyaksikan, noda itu justru menjadi gambaran ketulusan dan penghormatan kepada orang tua.
Semoga Letkol Arm Eddy Saputra Ginting senantiasa diberikan kesehatan, kelancaran dalam menjalankan tugas, kesuksesan dalam karier serta keharmonisan bersama keluarga.
Mejuah-juah, “Aamiin Ya Rabbal Alamin. 🤲”.
(red/*)