Xiangfei: Simbol Perempuan Uyghur dalam Jejak Peradaban Islam di Xinjiang

INN | KASHGAR (RRT) – Perjalanan penulis bersama rombongan delegasi Sumatera ke berbagai situs bersejarah di Kashgar, Xinjiang, membuka wawasan baru tentang jejak panjang peradaban Islam di kawasan Turkestan Timur. Salah satu situs yang paling menarik perhatian adalah kompleks sejarah Xiangfei, tokoh perempuan Uyghur yang hingga kini tetap hidup dalam memori masyarakat Kashgar.

Di tengah lorong-lorong Kota Tua Kashgar yang masih kental dengan nuansa Islam Turkik, nama Xiangfei terus dikenang. Dalam catatan sejarah Dinasti Qing, ia dikenal sebagai Rongfei, seorang selir Kaisar Qianlong yang berasal dari keluarga muslim Uyghur di wilayah Yarkant, dekat Kashgar.

Tokoh yang dalam legenda rakyat Tiongkok disebut “Xiangfei” atau “Permaisuri Wangi” itu diyakini lahir pada tahun 1734 dari keluarga Hoja (Khoja), yakni keluarga bangsawan religius muslim yang memiliki pengaruh besar di Xinjiang bagian selatan.

Kisah Rongfei tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Islam di Kashgar. Jauh sebelum Dinasti Qing menguasai Xinjiang pada abad ke-18, Kashgar telah berkembang sebagai pusat penting peradaban Islam Turkik sejak masa Kekhanan Kara-Khanid pada abad ke-10 Masehi.

Dinasti Kara-Khanid dikenal sebagai kerajaan Muslim pertama bangsa Turki di Asia Tengah. Penguasanya yang terkenal, Satuk Bughra Khan, tercatat memeluk Islam pada pertengahan abad ke-10 dan kemudian menjadikan Islam sebagai identitas politik kerajaan. Dari Kashgar, pengaruh Islam menyebar luas ke wilayah Tarim Basin hingga Turkestan Timur.

Sejarawan mencatat bahwa sejak era Kara-Khanid, Kashgar berkembang bukan hanya sebagai pusat perdagangan Jalur Sutra, tetapi juga sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam dan budaya Turkik. Tokoh besar seperti Mahmud al-Kashgari, penulis Diwan Lughat al-Turk, lahir dari lingkungan budaya tersebut. Karyanya hingga kini menjadi referensi penting dalam sejarah bahasa dan masyarakat Turkik.

Dalam sejumlah percakapan penulis dengan masyarakat Uyghur di Kashgar, nama Xiangfei masih sering disebut sebagai bagian dari memori sejarah lokal. Seorang warga di sekitar kawasan Kota Tua Kashgar menyebut Xiangfei sebagai simbol perempuan Uyghur yang tetap mempertahankan identitas budaya dan agama meskipun hidup jauh di pusat kekuasaan Beijing.

Warga lainnya menjelaskan bahwa masyarakat setempat lebih mengaitkan Xiangfei dengan keluarga Khoja dan sejarah Islam Turkestan dibanding sekadar legenda romantis istana Qing. Di kalangan sebagian masyarakat Uyghur, Xiangfei dianggap memiliki hubungan erat dengan warisan ulama dan bangsawan Islam di Kashgar.

Pada abad ke-11, pengaruh Kara-Khanid semakin menguat setelah wilayah Khotan yang sebelumnya beragama Buddha berhasil dikuasai. Peristiwa itu menjadi titik penting proses Islamisasi Xinjiang bagian selatan. Sejak masa tersebut, identitas Islam di Kashgar tumbuh semakin kuat dan bertahan hingga berabad-abad kemudian.

Warisan Islam Kara-Khanid kemudian diteruskan oleh keluarga-keluarga ulama dan bangsawan Muslim di Kashgar, termasuk keluarga Hoja tempat Rongfei berasal. Karena itu, ketika Rongfei memasuki istana Qing pada tahun 1760, ia sesungguhnya membawa identitas budaya Islam Turkestan yang telah berusia ratusan tahun.

Catatan Dinasti Qing menunjukkan bahwa Rongfei memperoleh perlakuan khusus di istana. Ia tetap diperbolehkan mempertahankan tradisi makanan halal sesuai syariat Islam serta budaya berpakaian Uyghur yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat setempat. Bahkan di sekitar tempat tinggalnya di Beijing dibangun kawasan muslim dan fasilitas ibadah untuk mengurangi kerinduannya terhadap kampung halaman di Kashgar.

Dalam legenda rakyat Tiongkok berkembang kisah bahwa tubuh Rongfei mengeluarkan aroma harum alami sehingga ia dijuluki Xiangfei. Namun, menurut salah seorang warga Kashgar, kisah tersebut kemungkinan berasal dari tradisi penggunaan minyak wangi dan aroma khas Asia Tengah yang umum digunakan kalangan bangsawan muslim Xinjiang pada masa itu.

Menariknya, hingga saat ini kompleks makam keluarga Afaq Khoja yang sering disebut “Makam Xiangfei” masih menjadi salah satu situs sejarah paling terkenal di Kashgar. Seorang warga Uyghur yang diwawancarai penulis di sekitar kawasan tersebut menyebut lokasi itu bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian penting dari sejarah spiritual dan budaya masyarakat muslim Uyghur di Xinjiang.

Menelusuri Kashgar hari ini terasa seperti menyusuri jejak panjang peradaban Islam Turkestan. Masjid-masjid tua, bazar tradisional, bahasa Uyghur, budaya berpakaian, hingga identitas masyarakat muslim setempat merupakan bagian dari warisan sejarah yang telah terbentuk sejak era Kara-Khanid.

Karena itu, kisah Xiangfei bukan hanya legenda istana, melainkan simbol bagaimana identitas Islam dan budaya Turkestan dari Kashgar mampu bertahan dan terus dikenang lintas zaman.

Sumber : Muhammad Riduan Harahap
(Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)