
INN | TAPANULI UTARA (SUMUT).-Bermula dari sebuah pesan sederhana sang ibu, “anak perempuan harus bisa bertenun,” Ny. Herlina Donda Frisca Hendro Manurung kini sukses membuktikan bahwa keterampilan tradisional mampu menjadi pilar ekonomi keluarga yang bernilai tinggi. Anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang X Rindam PD I/Bukit Barisan ini berhasil mengubah seuntai benang menjadi karya seni bernilai jutaan rupiah.

Ny. Herlina mulai mempelajari seni tenun sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Proses panjang mulai dari memintal benang, mangani, hingga menciptakan motif-motif rumit telah ia lalui. Meski sempat bercita-cita menjadi pegawai bank dan menyandang gelar Sarjana Ekonomi, garis hidup membawanya kembali ke alat tenun tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu, atau yang dikenal dengan alat tenun gedogan.
”Saat ini saya bersyukur memiliki keterampilan ini karena bisa membantu perekonomian keluarga, terlebih sekarang saya fokus sebagai Ibu Rumah Tangga,” ungkap Ny. Herlina dalam narasinya.
Karya-karya yang dihasilkan bukan sekadar kain biasa, melainkan cerminan jati diri masyarakat Batak. Beberapa poin utama dari produksi tenunnya meliputi:
- Varian Motif: Menghasilkan motif Piala Full, Tumtuman, Sadum, Bintang Maratur, hingga Pucca Klasik.
- Tingkat Kesulitan: Motif paling rumit seperti Tumtuman Ragi Idup membutuhkan waktu pengerjaan hingga satu bulan, sementara motif sederhana dapat diselesaikan dalam satu minggu.
- Set Tenun: Setiap set terdiri dari tiga lembar kain, yakni satu selendang dan dua lembar sarung.
- Favorit Pasar: Motif Tumtuman dengan dasar putih dan hiasan benang emas atau perak menjadi produk yang paling banyak diminati, terutama untuk pengantin wanita dan acara formal.
Meski menggunakan teknik tradisional, Ny. Herlina sangat adaptif dengan teknologi. Melalui akun Facebook “Fris Sihombing Songket Tarutung” dan Instagram @fris_sihombing, hasil karyanya telah menjangkau pelanggan di seluruh Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Pendapatan yang dihasilkan pun fantastis, berkisar dari jutaan hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.
Melalui kisahnya, ia berharap dapat memotivasi perempuan lain untuk menemukan gairah dan fokus pada karya yang ditekuni. “Percayalah selalu ada jalan bagi kita yang selalu berusaha, sehingga di satu titik kita tinggal menuai hasil,” tutupnya dengan semangat “Horas”.(red)

