
INN | LANGKAT (SUMUT) – Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat di sebuah gubuk sederhana di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, saat sejumlah prajurit Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0203/Langkat belajar menganyam keranjang arang bersama warga, Kamis (07/05/2026).
Di tengah bilah-bilah bambu yang berserakan, para prajurit berseragam loreng tampak serius mencoba merangkai anyaman. Namun sesekali, suasana pecah oleh tawa ketika susunan bambu yang dibuat terlepas dan harus diulang kembali.
Kegiatan sederhana tersebut menjadi momen kebersamaan antara personel Satgas TMMD dan masyarakat setempat. Selain membantu pembangunan fisik desa, para prajurit juga belajar memahami kehidupan warga secara lebih dekat.
Mariana (49), seorang pengrajin keranjang arang di Desa Pasar Rawa, dengan sabar mengajarkan cara mengikat dan menyusun bambu agar anyaman kuat dan tidak mudah rusak saat digunakan membawa arang.“Harus rapat anyamannya, kalau longgar nanti rusak,” ujarnya sambil membetulkan hasil anyaman salah satu prajurit.
Bagi masyarakat Pasar Rawa, keranjang arang bukan sekadar kerajinan tangan, tetapi menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi warga pesisir yang selama ini menggantungkan hidup dari produksi arang tradisional.
Di tempat sederhana itu, suasana kebersamaan antara TNI dan warga terasa begitu dekat. Prajurit tidak hanya hadir sebagai pelaksana pembangunan infrastruktur, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat desa.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata pelaksanaan TMMD ke-128 Kodim 0203/Langkat yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, sumur bor, dan rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), tetapi juga membangun hubungan sosial dan kebersamaan dengan masyarakat.
Selama hampir satu bulan pelaksanaan TMMD, personel Satgas tinggal dan berbaur bersama warga. Mereka makan bersama, membantu aktivitas sehari-hari, hingga ikut merasakan kehidupan masyarakat desa.
Kedekatan itu perlahan membangun ikatan emosional antara prajurit dan warga. Rumah-rumah yang sebelumnya sunyi kini dipenuhi canda, percakapan, dan semangat kebersamaan.
Di balik anyaman bambu yang terus dibentuk, tersimpan makna bahwa membangun desa bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang memahami kehidupan masyarakat dan tumbuh bersama dalam semangat gotong royong.
(Sumber : Pendim 0203/Langkat)

