Warga Komplek BTN dan Mega Martubung Terkepung Banjir, Harapkan Tindakan Cepat Pemko Medan

INN | MEDAN (SUMUT) – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Medan sepanjang hari, Senin (20/10/2025), menyebabkan ribuan rumah di kawasan Komplek BTN, Perumahan Mega Martubung, dan Griya Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, terendam banjir. Hingga Rabu (22/10/2025), kondisi banjir semakin parah dan membuat warga nyaris terisolasi.

Pantauan di lapangan menunjukkan, genangan air tertinggi terjadi di Komplek BTN dan Perumahan Mega Martubung dengan ketinggian air mencapai sekitar 80 sentimeter. Akibatnya, akses jalan utama terendam dan menghambat aktivitas warga maupun pengguna jalan.

Debit air yang tinggi membuat fungsi Danau Laguna dan rumah pompa yang dibangun Pemerintah Kota Medan tidak maksimal. Air dari Blok 4 mengalir deras menuju Komplek BTN yang berada di area cekungan, sehingga genangan semakin meluas. Kondisi ini diperparah oleh banjir rob dari wilayah Belawan yang turut menaikkan permukaan air.

Nelly, salah satu warga Komplek BTN, menuturkan bahwa banjir semakin sering terjadi akibat air dari parit di Blok 4 yang meluap ke permukiman.
“Hujan sebentar saja, Komplek BTN sudah seperti kolam. Sekarang air makin tinggi, apalagi laut sedang pasang, jadi air tidak bisa mengalir ke hilir,” keluhnya.

Menurut Nelly, sekitar 700 kepala keluarga (KK) dengan 500 rumah di Komplek BTN terdampak banjir, sedangkan di Perumahan Mega Martubung terdapat sekitar 200 KK dan 250 rumah yang terendam. Ia berharap Pemko Medan segera memperbaiki sistem drainase dan menata aliran air dari Danau Laguna yang kerap meluap ke rumah warga.

“Semalam sudah ada mobil pompa dari Dinas SDABMBK yang menyedot air, tapi hasilnya belum maksimal. Hujan yang terus turun membuat debit air malah semakin naik,” tambah Nelly.

Selain mengganggu aktivitas, banjir juga mulai menimbulkan masalah kesehatan. Warga mulai terserang penyakit kulit, bahkan harus waspada terhadap hewan berbisa yang muncul bersama genangan air. Hingga kini, belum terlihat adanya posko pengungsian, dapur umum, atau pos kesehatan dari Pemko Medan di lokasi banjir.

Warga, terutama lansia, mulai merasa kelelahan menghadapi banjir yang terus berulang. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menanggulangi masalah ini.

“Kami mohon perhatian dari Pemko Medan. Tolong bebaskan kawasan kami dari banjir,” ujar Nelly dengan nada penuh harap.

Sementara itu, Lurah Besar, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait banjir tersebut, mengatakan pihaknya akan segera melakukan peninjauan.

“Siap Bang, nanti kita tinjau parit Belanda ujung. Kita juga dapat info dari Kelurahan Nelayan, tinggi air di sana masih cukup tinggi,” ujarnya singkat.(Krn/*)